Sebenarnya semua orang mungkin tahu, satu hal yang pasti dalam hidup adalah bahwa kita semua akan meninggal. Kematian merupakan salah satu pokok bahasan yang masih sering dihindari dan banyak orang merasa tidak nyaman, tidak senang, takut, termasuk menghindari orang-orang yang mengalami kesedihan atau sekarat. Padahal ini adalah topik yang dekat dengan kehidupan manusia. Banyak orang merasa bingung ketika dihadapkan dengan teman, sejawat bahkan saudara dan keluarga yang sedang mengalami kematian dari orang terdekat mereka.

Sebenarnya semua orang mungkin tahu, satu hal yang pasti dalam hidup adalah bahwa kita semua akan meninggal.

Banyak orang akan lebih memilih berbicara tentang gosip artis, seks, narkoba dan koruptor. Kita mungkin memberitahu anak-anak kita tentang kematian, tetapi kita tidak membicarakan kematian dan mengajarkan anak memahami kematian. Pada jaman penjajahan, kematian begitu umum sehingga lebih mudah dipahami oleh generasi terdahulu. Mereka tahu cara untuk menyampaikan ucapan bela sungkawa yang penuh empati jika mereka bertemu seseorang yang berduka. Anehnya, kini subjek kematian seperti menjadi tabu.

Banyak orang akan lebih memilih berbicara tentang gosip artis, seks, narkoba dan koruptor. Kita mungkin memberitahu anak-anak kita tentang kematian, tetapi kita tidak membicarakan kematian dan mengajarkan anak memahami kematian.

Kita perlu berbicara dengan anak dan remaja, bahkan dengan orang dewasa juga mengenai kematian. Yaitu membicarakan secara terbuka tentang perasaan dan pengalaman berduka. Kita juga dapat mengingatkan diri kita sendiri bahwa kematian adalah bagian dari proses menjadi manusia. Kita juga perlu mempersiapkan anak-anak kita dengan membicarakan orang-orang tercinta atau orang-orang yang mereka kenal, yang telah meninggal dunia. Kita juga bisa belajar lebih terbuka tentang perasaan kita sendiri saat bertemu seseorang yang berduka atau sakit keras, kita bisa mendekati mereka dan menanyakan keadaannya dengan tenang dan penuh empati.

Kematian hewan peliharaan dapat menjadi contoh awal yang baik. Kita perlu mendiskusikan bagaimana perasaan kita tentang kematian mereka dan mendorong anak-anak kita untuk melakukan hal yang sama. Kita perlu mengingat hewan peliharaan itu dengan perasaan sayang dan menyebutnya. Proses ini juga dapat dikaitkan saat membahas kematian orang yang kita cintai atau siapapun itu. Pengalaman tersebut akan menciptakan empati dan kematian tidak akan terdengar asing.

Kita perlu berbicara dengan anak dan remaja bahkan orang dewasa juga mengenai kematian dan kita perlu berbicara di antara kita secara terbuka tentang perasaan berduka.

Ketika kita berusaha memahami sendiri kematian seseorang yang dekat dengan kita, kita akan memberikan pemaknaan bagi diri sendiri. Ada beberapa tahap dalam proses berduka, tapi saya melihat tahapan-tahapan tersebut dapat muncul dalam urutan apapun. Ada kemungkinan juga anda merasakan beberapa emosi yang kontras sekaligus. Mungkin bisa sangat merindukan orang itu, sekaligus marah kepada mereka juga. Tidak ada kerangka waktu yang ideal untuk dapat merelakan hingga bisa menyesuaikan diri dengan kematian seseorang, waktu dibutuhkan selama diperlukan. Anda tidak “melupakan” kematian seseorang tapi anda melakukannya pada waktunya, anda sebenarnya belajar untuk hidup dengan rasa kehilangan dan ketiadaan mereka. Fakta bahwa anda merindukan orang tersebut mengindikasikan bagian yang mereka miliki dalam hidup anda saat mereka hidup.

Elizabeth Kubler Ross (1969) menguraikan lima tahap kehilangan orang terdekat yang meninggal. Apa saja? lihat yuk http://bit.ly/2rN8mRC

Elizabeth Kubler Ross (1969) menguraikan lima tahap kesedihan yang dapat anda ketahui dan pahami untuk diri anda, anak anda bahkan siapa saja:

1) Menyangkal: ini tidak terjadi pada saya. Terkadang orang terus bertindak seolah-olah orang yang meninggal masih hidup. Adanya harapan bahwa setiap saat mereka akan berjalan melalui pintu dan kehidupan akan berlanjut seperti “normal”.

2) Kemarahan: Kenapa saya ditinggalkan? Berani-beraninya orang itu mati, tinggalkan aku? Rasa marah inilah yang dapat terjadi ketika anda mulai tidak menyangkal mengenai kematian.

3) Bargaining/menawar-nawar: Jangan biarkan orang yang saya cintai meninggal, saya akan memperbaiki semuanya. Kalau saja dia tidak meninggal, saya akan berusaha lebih baik. Memohon, berharap, tawar menawar dengan kekuatan yang lebih tinggi.

4) Depresi: Merasa lelah luar biasa, putus asa, frustrasi. Merasa ditinggal sendiri menyebabkan pikiran sementara untuk ingin ikut meninggal juga.

5) Penerimaan: Kemampuan untuk mulai melangkah maju dan menikmati hidup anda sendiri. Sambil mengingat saat-saat bahagia dengan almarhum dengan perasaan rileks dan menyadari bahwa hidup terus berlanjut.

Kita membutuhkan, sebagai masyarakat, untuk mengakui proses berduka ini; Untuk berbicara secara terbuka kepada orang-orang yang hidup dengan kondisi terminal dan bersikap tenang. Ketika kita menghindari topik ini, sebenarnya kita akan menutup diri dari diri kita sendiri untuk menjadi lebih pengasih dan memiliki empati. Bahkan dapat mengurangi kemampuan kita untuk memahami orang-orang yang mengalami kesulitan.

Ketika kita menghindari topik kematian dan orang-orang yang kehilangan orang terdekat mereka, sebenarnya kita menutup diri dari diri kita sendiri untuk menjadi lebih pengasih dan memiliki empati.

Kematian tidak menakutkan, kita hanya berpikir seperti itu karena topik ini sudah begitu asing. Kematian merupakan bagian dari kehidupan dan kita perlu berhenti untuk takut akan kenyataan kematian. Tidak usah ragu membicarakannya dan membiasakan diri dengan hal tersebut. Jangan sampai generasi penerus kita semakin asing dengan topik ini.

 

Advertisements