Semua manusia memiliki jenis kelamin biologis; apakah itu perempuan, laki-laki ataupun interseks, untuk memahami lebih dalam tentang gender bisa membaca artikel Transgender, Transseksual dan Interseks bukan gangguan mental. Gender kita merupakan status sosial kita sebagai laki-laki atau perempuan. Orientasi Seksual adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan apakah seseorang merasakan hasrat seksualnya kepada orang dengan gender yang berbeda, sama atau kedua gender.

Tiap orang memiliki Gender dan Identitas Gender. Identitas Gender merupakan perasaan terdalam mengenai gender diri kita sendiri. Kita mengekspresikan Identitas Gender kita dalam berperilaku maskulin, feminin, tidak keduanya atau keduanya. Ada juga Transgender yang mengalami ketidaksesuaian antara jenis kelamin biologis dengan Identitas Gender mereka.

Orientasi Seksual seseorang tidak hitam-putih, Orientasi Seksual berada dalam kontinum. Bisa saja anda biseksual, gay, lesbian ataupun heteroseksual. Atau bisa saja anda masih mempertanyakan, belum yakin dengan Orientasi Seksual anda. Semakin anda memahami jenis kelamin biologis, gender, identitas gender dan orientasi seksual anda, akan semakin mudah untuk anda memahami diri anda sendiri dan tahu cara bagaimana berhubungan dengan orang lain. Jenis kelamin dan gender memang kompleks. Saya mendapatkan banyak pertanyaan mengenai hal ini. Saya berharap kumpulan pertanyaan yang pernah saya dapatkan dibawah ini dapat membantu kita semua memahami diri sendiri, orang terdekat maupun orang lain disekitar kita.

s2
Semakin anda memahami identitas gender akan semakin mudah anda memahami diri sendiri dan tahu cara bagaimana berhubungan dengan orang lain. Lengkapnya baca pada http://bit.ly/2cJ0VTo
  1. Apakah gay/lesbian/biseksual merupakan gangguan kejiwaan?
    Gay, Lesbian ataupun Biseksual bukanlah gangguan jiwa. Banyak penelitian psikologi membuktikan bahwa Orientasi Seks seseorang tidak berhubungan dengan kesehatan mental serta stabilitas emosi mereka. Ketika mereka terpaksa untuk menutupi Orientasi Seksual mereka, seseorang dapat mengalami depresi dan permasalahan psikologis lainnya. Hal ini muncul karena tekanan masyarakat bukan karena pilihan Orientasi Seksual seseorang.
  2. Apakah gay, lesbian, biseksual dan transgender dapat memiliki hubungan percintaan dan berumahtangga layaknya heteroseksual?
    Tentu saja, banyak dari kalangan LGBT memiliki hubungan layaknya heteroseksual. Namun, penolakan masyarakat sering mengakibatkan hubungan ini tidak tampak.
  3. Kapan gay, lesbian,biseksual dan transgender mengetahui kondisi diri mereka?
    Mereka dapat menyadari Orientasi Seksual dan Identitas Gender mereka bisa kapan saja sepanjang hidup mereka. Ada yang ketika masa sekolah dasar, ada yang ketika remaja, ada juga yang baru memahami ketika mereka berumur 20 tahun ke atas. Penting untuk diketahui bahwa tidak ada pengalaman atau sesuatu yang mereka hadapi dapat membuat mereka menjadi gay, lesbian, biseksual ataupun transgender. Walaupun suatu kejadian dalam kehidupan seseorang dapat menjadi penemuan kondisi diri mereka. Pengalaman seks tidak selalu menjadi acuan untuk memahami Orientasi Seksual mereka. Bagaimana seorang laki-laki heteroseksual tahu ia tertarik dengan seorang perempuan? Atau seorang perempuan heteroseksual tertarik dengan laki-laki? Kita tahu saja kan, terasa di hati dan pikiran kita bukan? Sama saja dengan LGBT.

    homophobia
    LGBT bukanlah gangguan jiwa, penelitian psikologi membuktikan orientasi seks seseorang tidak berhubungan dengan kesehatan mental serta stabilitas emosi. Pahami lebih lanjut di http://bit.ly/2cJ0VTo
  4. Kenapa orang harus tahu tentang isu LGBT?
    Heteroseksisme (percaya bahwa semua orang adalah heteroseksual) dan Homofobia (perilaku dan pemikiran negatif terhadap LGBT) adalah hasil dari ketidaktahuan dan ketidakpedulian tentang Orientasi Seksual dan Identitas Gender. Pemahaman tentang isu LGBT dapat memberantas rasa takut dan diskriminasi. Bagi LGBT, mereka dapat hidup sesuai pilihan mereka dan tidak perlu harus menutup-nutupi dan berbohong demi keamanan diri mereka. Bagi remaja LGBT, mereka lebih mudah untuk mengalami depresi bahkan beresiko bunuh diri karena penolakan dari teman-temannya dan keluarga.
  5. Apakah gay dan laki-laki biseksual selalu seperti banci? Lesbian dan perempuan biseksual selalu maskulin?
    Lesbian, gay dan biseksual sangatlah bervariasi dalam memilih gaya berpakaian, perilaku dan gaya hidup. Sama seperti heteroseksual. Meskipun ada stereotipi tentang gay bersikap banci dan lesbian tampil maskulin, mayoritas gay dan lesbian tidak menampilkan stereotipi ini. Bahkan banyak juga laki-laki yang bersikap seperti banci dan perempuan maskulin mereka adalah heteroseksual.
  6. Apakah Orientasi Seksual merupakan suatu pilihan?
    Orientasi Seksual bukanlah suatu pilihan. Manusia tidak dapat memilih apakah ia ingin menjadi gay atau heteroseksual. Walaupun kita dapat memilih apakah kita ingin mengikuti kata hati atau apapun yang menjadi bahan pemikiran orang itu sendiri.

    hrd2010_logo_en_standard_baseline_md
    Heteroseksisme (percaya bahwa semua orang adalah heteroseksual) dan Homofobia (perilaku dan pemikiran negatif terhadap LGBT) adalah hasil dari ketidaktahuan dan ketidakpedulian tentang Orientasi Seksual dan Identitas Gender. Pemahaman tentang hal ini dapat memberantas rasa takut dan diskriminasi. Lihat http://bit.ly/2cJ0VTo
  7. Adakah terapi psikologis yang dapat merubah Orientasi Seksual seseorang?
    Tidak ada. Namun ada saja kalangan LGBT yang ingin merubah Orientasi Seksual mereka, seringkali kondisi ini karena paksaan keluarga atau kelompok kepercayaan tertentu. Pada kenyataannya, LGBT bukanlah penyakit sehingga tidak membutuhkan pengobatan. LGBT yang datang mengunjungi psikolog, melakukan konseling bukan untuk merubah Orientasi Seksual mereka, tetapi mencari pemahaman psikologis serta strategi untuk memahami diri mereka. Salah satunya untuk menghadapi tekanan, prasangka dan stigma lingkungan. Alasan lainnya mereka ke psikolog sama dengan ketika heteroseksual mengunjungi psikolog.
  8. Apakah LGBT bisa menjadi orangtua yang benar? 
    Tentu saja. Sudah banyak penelitian psikologi perkembangan yang membandingkan anak yang dibesarkan oleh orangtua homoseksual dengan orangtua heteroseksual tidak menemukan perbedaan diantara 4 kriteria kritis: kecerdasan, penyesuaian psikologis, penyesuaian dengan lingkungan sosial dan kemampuan berteman. Penting juga untuk disadari bahwa Orientasi Seksual orangtuanya tidak mengindikasikan Orientasi Seksual anak-anaknya.

    image-20150610-6804-12xtieo
    Masih bingung tentang Orientasi Seksual? email saja anindya.psikolog@gmail.com lihat juga pada http://bit.ly/2cJ0VTo
  9. Kenapa ada gay, lesbian yang berani mengakui Orientasi Seksual mereka, ada yang tidak?
    Berbagi mengenai aspek tersebut dengan orang lain yang mereka percayai adalah hal yang penting bagi kesehatan mental mereka. Proses ini sering disebut dengan “coming out”. Coming Out ini merupakan proses perkembangan identitas diri seseorang. Semakin positif seorang LGBT terhadap dirinya sendiri, akan semakin baik kepercayaan diri mereka dan tentu saja kesehatan mental mereka. Namun untuk banyak LGBT, proses Coming Out ini bisa sangat sulit. Terutama jika mereka merasa takut dengan lingkungannya, takut dianggap berbeda dan takut sendirian. Hal ini biasanya terjadi ketika masa anak dan remaja. Bahkan tidak sedikit yang hingga dewasa. Apalagi kalangan LGBT rentan terhadap gangguan dan kekerasan fisik dari lingkungan sosial. Dukungan keluarga dan orang terdekat memang menjadi salah satu kekuatan yang bisa membantu menghadapi stigma dan ketidaktahuan tentang LGBT.
  10. Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi prasangka dan diskriminasi yang dialami kalangan LGBT?
    Penelitian membuktikan bahwa orang yang memiliki perilaku positif terhadap kalangan LGBT biasanya adalah orang yang memiliki teman, anggota keluarga, saudara LGBT. Perilaku buruk terhadap kalangan LGBT terjadi karena prasangka dan ketidaktahuan. Oleh sebab itu, mengedukasi masyarakat tentang Orientasi Seksual dan Identitas Gender diharapkan dapat menurunkan stigma anti-LGBT. Informasi akurat sangat penting terutama untuk remaja yang ingin memahami seksualitas dirinya. Apakah itu heteroseksual ataupun homoseksual ataupun biseksual. Takut untuk mencari informasi hanya akan semakin menyesatkan, dan tentu saja pencarian informasi tentang homoseksual tidak memberikan arti bahwa si pencari informasi gay ataupun tidak.2b0816df290943adc050237c6f899aec
Advertisements