Mitos: Tes Sidik Jari dapat memprediksi kepribadian dan kecerdasan seseorang.

Fakta: Penelitian mengenai sidik jari banyak dilakukan untuk kegunaan kesehatan, forensik dan perangkat lunak sistem keamanan. Namun, belum ada hasil penelitian yang empiris mengenai keakuratan tes sidik jari untuk melihat kepribadian dan kecerdasan bahkan hingga tahun 2016 ini.

jargon marketing yang ditawarkan oleh tes sidik jari ini seringkali abstrak, seperti untuk membentuk masa depan anak, mengetahui kemampuan batin anak, mengetahui cara anak mengejar mimpi masa depan mereka, dan sebagainya. Bukankah tugas kita sebagai orangtua hingga mereka dewasa untuk mengenali dan memahami perkembangan anak-anak kita? Bagaimana sebuah alat tes bisa menggantikan proses panjang kita sebagai orangtua?
jargon marketing yang ditawarkan oleh tes sidik jari ini seringkali abstrak, seperti untuk membentuk masa depan anak, mengetahui kemampuan batin anak, mengetahui cara anak mengejar mimpi masa depan mereka, dan sebagainya. Bukankah tugas kita sebagai orangtua hingga mereka dewasa untuk mengenali dan memahami perkembangan anak-anak kita? Bagaimana sebuah alat tes bisa menggantikan proses panjang kita sebagai orangtua?

Saya akan coba bahas dari pertanyaan yang pernah saya dapatkan.

  • Masa sih mitos, kan ada hasil penelitiannya?
    Diawali dengan tes sidik jari ini yang katanya hasil penelitian Jaegers (1974) namun saya tidak dapat menemukan artikel penelitiannya, atau yang lebih baru yang katanya dilakukan peneliti di Taiwan dan Iran (2001) namun ternyata mereka meneliti sidik jari untuk meningkatkan tingkat akurasi alat pembaca sidik jari bukan sebagai tes kecerdasan ataupun kepribadian. Ada juga penelitian yang dilakukan tahun 2010, namun tampaknya sudah ditarik dari Google Scholar; tempat untuk mencari artikel jurnal penelitian ilmiah.
    Begitu juga tentang ketidakakuratan Universitas Harvard dan Cambridge yang katanya melakukan penelitian tes sidik jari, kedua universitas tersebut tidak melakukan penelitian hubungan antara kepribadian dan tes sidik jari, melainkan hanya mnggunakan alat pindai (scan) sidik jari untuk data mahasiswa dan kepegawaian mereka.
    Saya akan coba jelaskan sedikit kapan penelitian dan hasilnya dapat dianggap ilmiah. Penelitian yang baik biasanya akan diterbitkan dalam jurnal di bidangnya masing-masing, misalnya penelitian psikologi akan terbit di dalam jurnal psikologi, penelitian geografi akan terbit dalam jurnal geografi. Yang disebut penelitian ilmiah adalah penelitian yang melalui proses peer-reviewed research. Artinya, peneliti yang meneliti topik tertentu akan mendapatkan review secara mendalam oleh kolega mereka di bidang tersebut, sebelum dapat diterbitkan dalam sebuah jurnal. Pemberi review biasanya dari negara yang berbeda yang telah ditentukan oleh editor jurnal tersebut, jika jurnal yang dituju berkelas internasional. Semakin baik hasilnya suatu penelitian yang diterbitkan dalam sebuah jurnal, akan semakin banyak pula orang yang akan menelitinya. Jika tidak, tentu saja akan sulit untuk terbit dalam sebuah jurnal dan jika terbit pun akan semakin ditinggalkan peneliti.
  • Adakah negara lain yang memakai juga tes sidik jari ini?
    Tes sidik jari ini hanya digunakan di sejumlah kecil negara di Asia yang tampaknya juga mengalami pro dan kontra. Negara maju di Asia seperti Jepang tidak menggunakan tes sidik jari ini. Dunia barat bahkan tidak melakukan penelitian tes sidik jari untuk mengukur kepribadian dan kecerdasan.
  • Bukankah tes sidik jari masuk kategori tes beraliran genetik?
    Jika ingin dikaitkan dengan aliran nature vs nurture, genetic vs environment. Kondisi tes sidik jari inipun tidak dapat dikatakan masuk dalam aliran genetik, karena anda tidak bisa mendapatkan genetika seseorang melalui sidik jari. Genetika seseorang hanya didapat melalui darah, tulang, rambut, ludah, cairan alat kelamin, kulit dan keringat. Itupun untuk menentukan hubungan darah orangtua-anak, sejarah penyakit dalam keluarga, meneliti pola penyakit ataupun digunakan sebagai bukti forensik X terhadap Y.
  • Bukankah psikolog yang mengembangkan tes sidik jari ini?
    Begitu juga tentang landasan teori yang digunakan tes sidik jari, yang katanya menggunakan teori Multiple Intelligence (MI) yang dikembangkan oleh psikolog Harvard; Prof. Howard Gardner yang tidak dapat ditemukan keterkaitannya dengan ilmu sidik jari yang dikembangkan Dr. Harold Cummins. Hingga kemudian bisa menjadi software tes sidik jari.
  • Memangnya tidak bagus tujuan dari alat tes sidik jari ini?
    Jargon marketing yang ditawarkan oleh tes sidik jari ini seringkali abstrak, seperti untuk membentuk masa depan anak, mengetahui kemampuan batin anak, mengetahui cara anak mengejar mimpi masa depan mereka, dan sebagainya. Bukankah tugas kita sebagai orangtua hingga mereka dewasa untuk mengenali dan memahami perkembangan anak-anak kita? Bagaimana sebuah alat tes bisa menggantikan proses panjang kita sebagai orangtua?
  • Ada ga sih penjelasan sederhana tentang tes sidik jari untuk menentukan kepribadian dan kecerdasan ini?
    Penjelasan paling sederhananya adalah jika dikaitkan dengan kepribadian, kepribadian manusia terus berkembang dan dapat berubah dan termodifikasi. Bisa menjadi bertambah buruk ataupun baik disertai kemauan yang sangat besar dari individu tersebut. Begitu juga dengan kecerdasan seseorang yang berpengaruh juga melalui lingkungan, cara mendidik serta gizi yang didapatkan sejak kecil. Sedangkan sidik jari manusia tidak mengalami perubahan sejak lahir hingga kematian. Berdasarkan berbagai hal yang saya dapatkan dan jelaskan diatas,  dapat terlihat bahwa antara tes sidik jari dengan kepribadian dan kecerdasan seseorang tidak memiliki korelasi.
Advertisements