Mengatakan hal-hal seperti, “Saya sih ga takut ya sama apapun”, atau “saya ga butuh dipromosikan naik jabatan, saya bisa berusaha sendiri” atau “saya sih ga bakal menangis mengalami hal seperti ini”, bukan berarti anda adalah orang yang kuat secara mental ya. Pada kenyataannya, bisa jadi anda hanya berlagak kuat saja menghadapi situasi yang sedang anda alami.

Berlagak kuat memang dapat membantu menguatkan diri untuk jangka waktu pendek, namun bukan cara yang tepat bagi jangka panjang. Menurut penelitian psikolog tahun 2015 di Rutgers University, seseorang yang sering berlagak kuat dapat mengalami konsekuensi serius pada kesehatan mental untuk jangka panjang.

Inilah tanda-tandanya jika anda hanya berlagak kuat secara mental:

1. Untuk menutupi perasaan tidak aman.

Berlagak kuat sering ditampilkan dengan bahasa tubuh yang terkesan “saya yang terbaik” atau “saya hebat pantasnya diperlakukan yang terbaik”. Namun, dibalik tampilan luar yang terlihat kuat dan meyakinkan seringkali memiliki banyak keraguan diri. Daripada menghabiskan enerji untuk menutupi kelemahan, orang yang kuat secara mental menginvestasikan waktu mereka untuk memperbaiki dan berkembang. Mereka memiliki kesadaran akan kekurangan diri mereka dan terus berusaha menjadi lebih baik.

2. Anda berpikir bahwa kegagalan bukan merupakan pilihan.

Dengan mengatakan “kegagalan bukan suatu pilihan” memang tidak akan membuat anda pasti berhasil tetapi dapat mencegah anda dari usaha untuk mencoba. Orang yang berlagak kuat, biasanya akan lebih tertarik untuk menunjukkan kemampuan yang mereka miliki daripada mempelajari hal baru. Orang bermental kuat akan memandang masalah atau kegagalan sebagai langkah menuju hal yang lebih baik ataupun langkah awal menuju kesuksesan. Mereka mempercayai kemampuan diri mereka untuk bangkit dari kegagalan dengan mempelajari kesalahan yang telah terjadi.

3. Nilai diri (Self-Worth) anda bergantung dari bagaimana orang lain menilai anda.

Orang yang berlagak kuat sangat memperhatikan penampilan luar mereka untuk mendapatkan kesan tertentu dari orang lain. Orang dengan mental kuat, tidak akan mengkhawatirkan keharusan untuk membuktikan apapun pada orang lain kecuali pada diri mereka sendiri. Mereka dengan rendah hati tidak ragu untuk meminta pertolongan bilamana perlu dan sadar bahwa ada hal-hal dalam kehidupan yang tidak selalu dapat dikerjakan secara mandiri.

4. Anda menekan emosi-emosi yang anda rasakan.

Seringkali, satu-satunya emosi yang nyaman untuk ditampilkan orang yang berlagak kuat adalah kemarahan. Hal ini seringkali muncul karena menekan emosi-emosi yang dirasakan dalam jangka waktu lama. Mereka menyembunyikan emosi sedih, takut bahkan rasa senang dari orang lain. Orang bermental kuat tidak ragu untuk mengakui jika mereka merasa takut ataupun menangis sesekali. Mereka juga tidak mengabaikan emosi yang dirasakan tetapi memiliki kesadaran mengenai perasaan-perasaan yang mempengaruhi pikiran dan perilaku diri mereka.

5. Menyangkal rasa sakit yang kita rasakan.

Banyak orang berlagak bangga pada diri mereka sendiri ketika menampilkan kemampuan mentoleransi rasa sakit emosional. Bisa dengan waktu bekerja yang berlebihan atau berpikir “sudahlah tidak usah dirasakan”. Mereka menolak melihat adanya luka dihati, keinginan mereka untuk terus saja melanjutkan hidup tanpa merasakan perasaan-perasaannya sendiri sebagai perilaku yang mulia. Sedangkan, orang yang kuat secara mental akan belajar dari rasa sakit yang mereka alami dan rasakan. Kemudian berusaha mengubah penderitaan tersebut menjadi suatu kesempatan untuk menjadi lebih baik.

6. Anda merasa dapat melakukan semuanya.

Orang yang berlagak kuat suka menyatakan hal-hal seperti, “tidak ada yang bisa menghentikan saya” atau “saya pasti bisa melakukan semua hal, semua tantangan ini”. Mereka sering memberikan penilaian terlalu tinggi terhadap kemampuan mereka tetapi mengabaikan hal-hal apa saja yang menyertai untuk mencapai tujuan hidup mereka. Sedangkan, orang yang kuat secara mental akan mempersiapkan hal-hal nyata yang ada untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan. Mereka mengenali hambatan yang dapat terjadi hingga usaha yang harus dilakukan secara realistis.

7. Anda berusaha mengontrol orang lain.

 Seringkali orang yang berlagak kuat merasa bahwa mereka memiliki kekuasaan pada orang lain. Mereka ingin orang lain menganggap mereka sebagai si pengontrol, mereka sering mengatur hal-hal kecil untuk orang lain atau mengharapkan orang lain selalu menuruti apa yang mereka anggap benar. Pada orang yang bermental kuat, mereka lebih tertarik untuk mengontrol diri mereka sendiri daripada mengontrol orang lain. Mereka menanamkan regulasi terhadap cara mereka berpikir, memahami emosi dan bertingkah laku secara produktif.

Kabar baiknya adalah siapa saja memiliki kemampuan untuk mengubah tampilan luar berlagak kuat menjadi pola pikir yang kuat. Sama seperti melatih kekuatan fisik yang membutuhkan latihan secara terus-menerus, kekuatan mental juga membutuhkan latihan secara teratur.

Advertisements